TfCpTfA9GfMpTfG9GSYiGUdoBA==

Banjir Rob Menggenangi Wilayah Sriwulan Sayung Demak



RADARNET.CO.ID | Demak - Banjir Rob tinggi sejak rabu(25/9/24) hingga minggu(29/9/24) membuat macet di Jl Raya Pantura Semarang Demak. Pada pukul 07.00 Wib pagi debit air mencapai 50 cm.


Untuk jalan kecil kampung yang biasanya tidak terkena dampak banjir rob, kini mulai dimasuki air yang diperkirakan akan terus di genangi air.Hal tersebut terjadi di saat pagi, seperti yang terjadi pada hari Minggu(29/9/24) sekira pukul 07.00.


Banjir rob terjadi sampai ke Batas kota, antara Semarang dan Demak hingga di depan Polsek Sayung Demak.


Seorang warga bernama Jaiman menanggapi terkait banjir rob yang menggenangi rumahnya. Jaiman menuturkan,' Banjir rob ini sangat meresahkan masyarakat khususnya desa Sriwulan Kecamatan Sayung Kabupaten Demak,jelasnya.


Jaiman juga menambahkan bahwa pak Zazin selaku Lurah desa Sriwulan juga berinisiatif membantu tanah Uruk berjumlah puluhan dam truck serta mendatangkan alat berat demi membenahi dan mengantisipasi terkait Banjir rob. Akan tetapi apa boleh di kata, Banjir Robnya juga mengejar terus dan semakin tinggi hingga semua musnah tergerus air rob termasuk pondasi-pondasi pembatas. Dan kami memohon pada Pemerintah, Dinas terkait wilayah Demak agar supaya membantu menangani hal ini agar supaya bisa meringankan beban Warga yang terkena dampak Banjir rob,' jelas Jaiman salah satu perwakilan dari warga Sriwulan.


Sebagian Warga pindah domisili dikarenakan adanya Banjir Rob, namun sebagian Warga juga memilih tetap menempati rumahnya serta Pasrah Hadapi Ancaman banjir rob yang Tak Menentu.


Di sisi lain Kondisi banjir rob di Pesisir Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, semakin tak menentu. Warga setempat hanya bisa pasrah menerima nasib yang terus terpuruk. Dukuh Timbulsloko, Desa Timbulsloko, menjadi salah satu daerah yang terdampak abrasi dan banjir rob terparah di Kecamatan Sayung. Meskipun masih dihuni, kondisi di sana sangat memprihatinkan.


Tokoh masyarakat Dukuh Timbulsloko, Shobirin, menjelaskan bahwa pasang surut air laut yang tak menentu membuat warga terbiasa dengan situasi tersebut.


Dia mencontohkan, banjir biasanya meninggi pada malam hari dan surut pagi hari.  Pada Rabu (25/9/2024), banjir meninggi sekitar pukul 05.00 WIB. "Tadi besar jam limanan, subuh. Sekarang kecil," ujarnya kepada tim awak media, Rabu siang.


Untuk diketahui, warga Dukuh Timbulsloko menggunakan rumah panggung untuk bertahan. Pasalnya, tidak ada daratan di daerah ini kecuali pemakaman.   Sebelumnya, Shobirin menambahkan, masih ada sekitar 110 kepala keluarga (KK) atau 200 orang yang tinggal di Dukuh Timbulsloko, sementara lebih dari separuh warga memilih untuk pindah. "Yang di sini warga pasrah, artinya tidak punya modal untuk pindah dari sini. Angan-angan warga kalau punya modal itu ya pindah," jelasnya.


Meskipun rumah warga yang bertahan sudah dibangun di atas panggung, banjir rob tetap mengancam.

"Kalau rob besar sangat sulit, banyak kasur tenggelam, bantal tenggelam itu sering," kata Shobirin.


Tak hanya di Timbulsloko, banjir rob juga melanda Desa Purwosari, Kecamatan Sayung.Ketua RW 03, RT 02 Desa Purwosari, Misbahul Munir, mengungkapkan bahwa rob mulai masuk ke desanya sekitar 2005. Ia mencatat, sekitar 10 KK sudah pindah rumah akibat dampak banjir rob.


"Kalau sedesa sepuluh ada yang pindah, ini tahun 2002 masih hijau, sekitar 2005 mulai rob," katanya.


Munir juga menceritakan bahwa sebelum menjadi tambak pada 1996, Desa Purwosari didominasi oleh lahan sawah yang subur.



"Saya MTs, tahun 96 itu masih sawah. Saya masih lewat belakang Polsek. Sekarang tidak bisa, tambak-tambak siapa juga tidak terdeteksi," imbuhnya.


Kondisi ini menunjukkan betapa seriusnya dampak banjir rob di Pesisir Demak, yang memaksa warganya untuk bertahan dalam keadaan yang semakin sulit.

Pewarta: Trisyono

Editor: Hadi Purwono

Komentar0

Type above and press Enter to search.