RADARNET.CO.ID | Semarang - Kembali tim Radarnet mengunjungi Dugderan Semarang ,pada sabtu(22/2/25).Warga Semarang dan sekitarnya bisa menyemarakan acara pasar Dugderan, yang menjadi event khas jelang bulan Ramadhan. Selain menyediakan jajanan khas dan berbagai hiburan, Dugderan yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang ini sarat dengan sejarah.
Pemkot Semarang mengadakan event Dugderan yang dibuka sejak Senin, 17 Februari 2025. Untuk merasakan semarak jelang bulan Puasa, warga Kota Atlas dan sekitarnya bisa menyimak lokasi pasar, akses ke lokasi, hingga tanggal dan jam buka Dugderan 2025.
Pasar Dugderan yang diadakan Pemkot Semarang menampung hingga seratusan pedagang yang akan memanjakan penggemar keplek ilat. Selain kuliner, ada pula pernak-pernik unik hingga ragam hiburan yang bisa dinikmati pengunjung.
Lokasi Pasar Dugderan digelar di sepanjang Jalan Agus Salim, dari pertigaan Hotel Metro Park View Kota Lama Semarang hingga pertigaan SJC Matahari. Lokasi tersebut tepat di sisi utara Alun-alun Masjid Agung Kota Semarang.
Untuk ke sana, pengunjung yang menggunakan kendaraan pribadi bisa langsung menuju kantong parkir yang disediakan, di antaranya di Gedung parkir Masjid Agung Kauman, Parkir Basement SCJ Matahari, Parkir Basement Alun-alun Pasar Johar, dan Sepanjang Alun-alun Timur.
Pasar Dugderan Semarang 2025 buka sejak Senin, 17 Februari 2025 dan tutup hingga pada Rabu, 26 Februari 2025. Namun rangkaian Dugderan tidak hanya selesai sampai penutupan pasar saja.
Biasanya akan digelar pawai budaya serta acara puncaknya akan digelar kirab yang ditunggu-tunggu. Pasalnya, inti dari Dugderan ialah untuk mengumumkan dimulainya bulan Puasa di Semarang. Tradisi ini sudah berlangsung ribuan tahun tahun lamanya.
Melansir laman Pemerintah Kecamatan Gayamsari, Semarang, tradisi tersebut sudah dimulai sekitar 1881. Dugderan digelar, karena saat itu untuk menyamakan perbedaan pendapat ihwal penentuan dimulainya Ramadhan.
Maka Bupati Semarang saat itu, Kanjeng Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat mengambil inisiatif,i untuk menentukan dimulainya hari puasa Ramadan, yaitu setelah bedug Masjid Agung dan meriam bambu di halaman kabupaten dibunyikan masing-masing sebanyak tiga kali. Maka tradisi tersebut dikenal sebagai Dugderan, yang berasal dari bunyi bedug dan meriam.
Yang ditunggu-tunggu selama Dudgeran ialah keumunculan maskot Warak Ngendog yang diarak selama festival. Warak Ngendog adalah binatang bertubuh kambing, berkepala naga, dan bersisik yang terbuat dari kertas warna-warni. Ada pula telur rebus atau dalam bahasa Jawa disebut endog. Makna dari maskot Warak Ngendok ini adalah warak yang sedang bertelur.
Pemilihan maskot tersebut berkaitan dengan kondisi Semarang kala itu. Saat pertama kali digelar, masyarakat Semarang sedang mengalami krisis pangan dan telur sehingga pada masa itu makanan tersebut menjadi makanan mewah.
Reporter: Hadi Purwono
Komentar0